LOMBOK-BLOG

{lombok primitive}


Topografi pulau ini didominasi oleh gunung berapi Rinjani yang ketinggiannya adalah 3.726 meter di atas permukaan laut dan membuatnya yang ketiga tertinggi di Indonesia. Daerah selatan pulau ini adalah sebuah ladang terbuka bebas yang subur dan ditanami dengan jagung, padi, kopi, tembakau dan kapas.

Sekitar 80% penduduk pulau ini adalah suku Sasak, sebuah suku bangsa yang masih dekat dengan suku bangsa Bali, tetapi sebagian besar memeluk agama Islam. Sisa penduduk adalah orang Bali, Jawa, Tionghoa dan Arab.

Sejarah tentang Lombok
Merekonstruksi sejarah Kerajaan Selaparang menjadi sebuah bangunan kesejarahan yang utuh dan menyeluruh agaknya memerlukan pengkajian yang mendalam. Permasalahan utamanya terletak pada ketersediaan sumber-sumber sejarah yang layak dan memadai. Sumber-sumber yang ada sekarang, seperti Babad dan lain-lain memerlukan pemilihan dan pemilahan dengan kriteria yang valid dan reliable. Apa yang tertuang dalam tulisan sederhana ini mungkin masih mengundang perdebatan. Karena itu sejauh terdapat perbedaan-perbedaan dalam pengungkapannya akan dlmuat sebagai gambaran yang masih harus ditelusurl sebagal bahan pengkajlan leblh ianjut.

BALI oN LOMBOK




Di Lombok Anda bisa menemukan Bali, tapi di Bali Anda tidak bisa menemukan Lombok. Begitu penilaian sejumlah orang perihal Lombok usai berwisata, sejak dulu. Benarkah begitu? Lalu apa yang dimiliki Lombok dan tak ada di Bali?

Sewaktu menginjakkan kaki di Bandara Selaparang, Mataram, Lombok, kesan Lombok berbeda dengan Bali sudah mulai terasa. Langit bandara dan Mataram ketika itu biru, awannya berawan putih seolah berada di negeri awan.

Dan ketika menyusuri Lombok lebih jauh, ternyata anggapan itu bukan isapan jempol. Lombok ternyata puya daya pikat luar biasa yang tidak dimiliki Bali. Di pulau terbesar kedua setelah Sumbawa yang menjadi bagian dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, ternyata bukan hanya memiliki Kawasan Pantai Senggigi, Tiga Gili, dan Gunung Rinjani yang sudah memancanegara. Melainkan juga sejumlah obyek wisata lain yang potensial menjaring lebih banyak lagi wisnus dan wisman di kemudian hari.

Terlebih kini tengah dibangun Bandara Internasional Lombok (BIL) di Desa Tanak Awu, Kabupaten Lombok Tengah. BIL dibangun untuk menggantikan Bandara Selaparang di Mataram yang sudah tak mampu lagi memenuhi pertumbuhan penumpang dan frekuensi penerbangan ke pulau itu. Ada juga yang menyebutkan, pembangun BIL ini sebagai salah satu syarat Emaar Properties dari Dubai selaku calon investor yang akan mendanai proyek mega wisata seluas 1.250 hektar di Lombok Tengah bagian Selatan.

Luas BIL mencapai 535 hektar atau dua kali lebih luas daripada Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali. Biaya pembangunannya sebesar Rp 665 miliar. Ditargetkan mulai beroperasi awal 2010.

bali_lombok. Anda bisa menemukan Bali, tapi di Bali Anda tidak bisa menemukan Lombok. Begitu penilaian sejumlah orang perihal Lombok usai berwisata, sejak dulu. Benarkah begitu? Lalu apa yang dimiliki Lombok dan tak ada di Bali?

Ada Kuta Berpasir MERICA

Mendengar nama Pantai Kuta (baca: Kute), pasti yang terekam di benak kita pantai tersohor yang (hanya) ada di Pulau Dewata Bali. Padahal di Lombok pun ada pantai indah yang juga bernama Kuta.

Kendati sama-sama bernama Kuta, jelas pesona keduanya berbeda. Bila Pantai Kuta di Bali berpasir sebagaimana umumnya pantai lainnya, lembut dan putih. Lainnya halnya dengan pasir Pantai Kuta Lombok. Butiran pasirnya seperti merica berwarna putih yang menghampar di sepanjang bentangan pantainya.

Konon pasir berbentuk merica itu berasal dari butiran karang tempat nyale atau cacing laut bersarang. Nyale-nyale yang jumlah miliaran itu membuat sarang di karang-karang putih dengan cara melubangi karang. Sisa galian nyale itu berbentuk butiran-butiran pasir yang kemudian dihanyutkan ombak ke pantai.

Lantaran berbentuk seperti butiran-butiran seperti merica, banyak warga dan pengunjung pantai ini menganggap lebih nyaman saat diinjak tanpa alas kaki dan bermanfaat memperlancar sirkulasi darah. Keistimewaan pantai ini (lagi), setiap setahun sekali digelar Festival Bau Nyale atau mencari nyale. Dan sekali lagi hanya ada di Kuta Lombok bukan Bali.

Bedanya lagi, kalau di Kuta Bali kondisinya sangat ramai dengan wisatawan sehingga agak sulit mendapatkan suasana yang lebih privacy, tenang, dan asri. Berbeda dengan Kute Lombok, suasananya lebih tenang dengan suguhan alam yang jauh lebih memikat. Pantainya dilataribelakangi perbukitan dan bukit karang yang menghijau, airnya bening dan aman untuk direnangi. Pengunjungnya masih sepi. Yang ada hanyalah sejumlah anak, penjual cendera mata yang "gigih" menawarkan dagangannya.

Pantai Kuta Lombok memang belum setenar Kuta Bali bahkan Pantai Senggigi di Lombok Barat. Namun dengan segala perbedaan dan keistimewaannya, pantai ini bakal menjaring wisnus dan wisman lebih banyak, kelak. Untuk menjangkau pantai ini dari Senggigi memakan waktu sekitar 2.5 jam, melalui Kota Mataram. Tapi Bila nanti BIL sudah beroperasi waktu tempuhnya jelas lebih singkat.

Selain pantai yang bernama sama seperti di Bali. Di Lombok juga terdapat sejumlah pura. Salah satunya Pura Lingsar yang terletak di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Berjarak sekitar 9,5 km dari Kota Mataram atau lebih kurang 7 Km dari Cakranegara. Pura terbesar dan tertua di Lombok ini dibangun pada 1714 oleh Raja Anak Agung Ketut Karangasem. Konon nama lingsar berasal dari bahasa Sansekerta, ling berarti "sabda" dan sar bermakna "sah"" atau "jelas".

Pura Lingsar ada kaitan erat dengan sejarah kedatangan ekspedisi Anglurah Ketut Karangasem pada 1692 Masehi. Ketika sang anglurah bersemadi di Pura Panggung, Lombok Barat, ia mendapatkan petunjuk gaib guna mencari sebuah mata air yang bernama atis toya hengsar ke arah Timur laut dari tempat tersebut.

Saat beristirahat di dekat kawasan yang dituju, ia dikejutkan suara gemuruh dari Selatan hutan. Lalu ia menuju ke arah itu dan mendapatkan mata air tersebut. Akhirnya, ia membangun pura yang kemudian dinamakan Pura Lingsar.

Luas keseluruhan kawasan Pura Lingsar beserta tamannya sekitar 26,663 hektar. Terbagi menjadi beberapa bagian yakni komplek "kolam kembar" (bagian paling depan), halaman taman bagian atas, halaman bencingah (bagian bawah depan kemaliq), kelompok bangunan pura (Ulon dan Gaduh) berpagar tembok, kelompok bangunan kemaliq (termasuk pasiraman), telaga ageng (kolam besar dan panjang, terletak di sebelah Selatan), dan pancoran sembilan (tempat pemandian) dan sekitarnya.

Salah satu ciri khas areal Pura Lingsar adalah adanya mata air yang sangat besar dan melimpah. Mata air itu dalam bahasa Bali disebut Telaga Ageng, sedangkan bahasa Sasaknya aik mual. Aik berarti "air" dan mual bermakna "melimpah keluar". Oleh karenanya Pura Lingsar kerap disebut oleh warga Suku Sasak dengan sebutan Pura Aik Mual.

Yang membedakan pura ini dengan pura lainnya di Bali selain kekhasan dan keunikan secara arsitektur, juga karena adanya Pura Ulon dan Pura Gaduh tempat persembahyangan umat Hindu dan di dalamnya terdapat pula bangunan suci kemaliq yang dipuja pula dan dihormati keberadaannya oleh Suku Bali yang beragama Hindu dan Suku Sasak yang menganut Islam. Konon kemaliq juga banyak dikunjungi warga Tionghoa, umumnya yang beragama Buddha dan Kong Fu Tse.

Bila Anda datang akhir November atau saat Desember, di Desa Lingsar digelar Perang Topat yang diadakan oleh umat Hindu dan Islam sebagai tanda terimakasih kepada Tuhan YME atas berkah yang diberikan selama setahun. Dalam acara budaya tahunan ini masyarakat saling melempar ketupat satu sama lain mulai pukul 16.30 sore saat bunga waru rontok dari rantingnya.

Bila ada upacara keagamaan di pura ini, masyarakat yang berbeda agama turun membantu. Dengan begitu Pura Lingsar bukan sekadar tempat beribadah sekaligus obyek wisata sekaligus bukti nyata adanya toleransi sejati antaragama sejak lama di Lombok.

LOMBOK-BLOG: kawin lari adat suku sasak lombok

Kawin Lari a la Suku Sasak-Lombok NTB
Kalau Anda di Lombok dan ingin menikah curilah anak gadis itu, bawa lari tanpa sepengetahuan keluarganya, bila sehari semalam tidak ada kabar maka dianggap gadis itu telah menikah!

Mencuri untuk menikah lebih kesatria dibandingkan meminta kepada orang tuanya. Namun ada aturan dalam mencuri gadis di suku asli di Pulau Lombok.

Memang cukup unik dari suku Sasak penduduk asli warga di Pulau Lombok Propinsi Nusa Tenggara Barat. Untuk urusan perjodahan suku ini menyerahkan semuanya pada anak, bila keduanya sudah saling suka, tidak perlu menunggu lama untuk menikah, curi saja anak gadis itu, pasti menikah. mencuri anak gadis itu lebih diterima keluarganya. Merarik istilah bahasa setempat untuk menyebutkan proses pernikahan dengan cara dicuri. Caranya cukup sederhana, jika keduanya saling menyukai dan tidak ada paksaan dari pihak lain, gadis pujaan itu tidak perlu memberitahukan kepada kedua orangtuanya. Bila ingin menikah langsung aja bawa gadis itu pergi dan tidak perlu izin.Mencuri gadis dengan melarikan dari rumah menjadi prosesi pernikahan yang lebih terhormat dibandingkan meminta kepada orang tuanya. Ada rasa kesatria yang tertanam jika proses ini dilalui. Terlebih lagi kelas bangsawan yang di sana menyandang gelar Lalu dan Raden. Namun Jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu.
{BAHASA}
Disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, penduduk pulau Lombok (terutama suku Sasak), menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Di seluruh Lombok sendiri bahasa Sasak dapat dijumpai dalam empat macam dialek yang berbeda yakni dialek Lombok utara , tengah, timur laut dan tenggara. Selain itu dengan banyaknya penduduk suku Bali yang berdiam di Lombok (sebagian besar berasal dari eks Kerajaan Karangasem), di beberapa tempat terutama di Lombok Barat dan Kotamadya Mataram dapat dijumpai perkampungan yang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan sehari-hari
{AGAMA}
Sebagian besar penduduk pulau Lombok terutama suku Sasak menganut agama Islam. Agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini adalah agama Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali yang berjumlah sekitar 15% dari seluruh populasi di sana. Penganut Kristen, Buddha dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh para pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini.

Di Lombok Barat bagian utara, tepatnya di daerah Bayan, terutama di kalangan mereka yang berusia lanjut, masih dapat dijumpai para penganut aliran Islam Wetu Telu (waktu tiga). Tidak seperti umumnya penganut ajaran Islam yang melakukan shalat lima kali dalam sehari, para penganut ajaran ini mempraktikan shalat wajib hanya pada tiga waktu saja. Konon hal ini terjadi karena penyebar Islam saat itu mengajarkan Islam secara bertahap dan karena suatu hal tidak sempat menyempurnakan dakwahnya.

Lombok jugak terkenal dengan Sebutan BUMI GORA.
bumi gora artinya,( tanah kering )di mana sebagian masarkat lombok itu
kalo menanam padi tampa menggunakan air
bumi gora terletak di lombok selatan.

rinjani


Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok bagian Utara dengan ketinggian 3,726 m di atas permukaan laut, no. 2 tertinggi di Indonesia. Bagi masyarakat Hindu mereka percaya di puncaknya merupakan tempat suci, tempat tinggal para Dewa. Pendakian ke gunung Rinjani dapat menjadi pengalaman tak terlupakan.
Pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut terdapat kaldera yang membentuk danau Segara Anak. Di tengah-tengah terdapat gunung Barujari yang masih aktif, tempat ini juga merupakan sumber mata air panas yang dipergunakan untuk berobat, sedangkan danau Segara Anak dapat dipergunakan sebagai tempat memancing. Danau Segara Anak dapat ditempuh melalui dua jalur, dari Senaru Lombok Barat dan Sembalun Lombok Timur. Jalan mendaki dapat diawali dari Pesugulan 78 km dari Mataram. Di sini juga terdapat tempat-tempat indah untuk berkemah terutam di tepi danau Segara Anak.

Mengenai Saya

Foto saya
jimbaran, badung bali, Indonesia