{lombok primitive}


Selain pantai yang bernama sama seperti di Bali. Di Lombok juga terdapat sejumlah pura. Salah satunya Pura Lingsar yang terletak di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Berjarak sekitar 9,5 km dari Kota Mataram atau lebih kurang 7 Km dari Cakranegara. Pura terbesar dan tertua di Lombok ini dibangun pada 1714 oleh Raja Anak Agung Ketut Karangasem. Konon nama lingsar berasal dari bahasa Sansekerta, ling berarti "sabda" dan sar bermakna "sah"" atau "jelas".

Pura Lingsar ada kaitan erat dengan sejarah kedatangan ekspedisi Anglurah Ketut Karangasem pada 1692 Masehi. Ketika sang anglurah bersemadi di Pura Panggung, Lombok Barat, ia mendapatkan petunjuk gaib guna mencari sebuah mata air yang bernama atis toya hengsar ke arah Timur laut dari tempat tersebut.

Saat beristirahat di dekat kawasan yang dituju, ia dikejutkan suara gemuruh dari Selatan hutan. Lalu ia menuju ke arah itu dan mendapatkan mata air tersebut. Akhirnya, ia membangun pura yang kemudian dinamakan Pura Lingsar.

Luas keseluruhan kawasan Pura Lingsar beserta tamannya sekitar 26,663 hektar. Terbagi menjadi beberapa bagian yakni komplek "kolam kembar" (bagian paling depan), halaman taman bagian atas, halaman bencingah (bagian bawah depan kemaliq), kelompok bangunan pura (Ulon dan Gaduh) berpagar tembok, kelompok bangunan kemaliq (termasuk pasiraman), telaga ageng (kolam besar dan panjang, terletak di sebelah Selatan), dan pancoran sembilan (tempat pemandian) dan sekitarnya.

Salah satu ciri khas areal Pura Lingsar adalah adanya mata air yang sangat besar dan melimpah. Mata air itu dalam bahasa Bali disebut Telaga Ageng, sedangkan bahasa Sasaknya aik mual. Aik berarti "air" dan mual bermakna "melimpah keluar". Oleh karenanya Pura Lingsar kerap disebut oleh warga Suku Sasak dengan sebutan Pura Aik Mual.

Yang membedakan pura ini dengan pura lainnya di Bali selain kekhasan dan keunikan secara arsitektur, juga karena adanya Pura Ulon dan Pura Gaduh tempat persembahyangan umat Hindu dan di dalamnya terdapat pula bangunan suci kemaliq yang dipuja pula dan dihormati keberadaannya oleh Suku Bali yang beragama Hindu dan Suku Sasak yang menganut Islam. Konon kemaliq juga banyak dikunjungi warga Tionghoa, umumnya yang beragama Buddha dan Kong Fu Tse.

Bila Anda datang akhir November atau saat Desember, di Desa Lingsar digelar Perang Topat yang diadakan oleh umat Hindu dan Islam sebagai tanda terimakasih kepada Tuhan YME atas berkah yang diberikan selama setahun. Dalam acara budaya tahunan ini masyarakat saling melempar ketupat satu sama lain mulai pukul 16.30 sore saat bunga waru rontok dari rantingnya.

Bila ada upacara keagamaan di pura ini, masyarakat yang berbeda agama turun membantu. Dengan begitu Pura Lingsar bukan sekadar tempat beribadah sekaligus obyek wisata sekaligus bukti nyata adanya toleransi sejati antaragama sejak lama di Lombok.

Mengenai Saya

Foto saya
jimbaran, badung bali, Indonesia